Prakata NetizenPosts.Com

consultingconnection

Selamat Datang di NetizenPosts !

Media ini digagas dan didirikan untuk menyajikan dan menebarkan Berita dan Opini yang baik dari Netizen untuk Netizen agar cakrawala pengetahuan dan pengalaman tersemai dan tumbuh di lingkungan yang baik.

Kami yakin, pohon pengetahuan yang baik akan tumbuh dan berkembang dengan cabang ranting yang rindang karena diberikan pupuk dan pemeliharaan yang baik. Makanan bergizi juga akan menumbuhkan badan sehat dan semangat hidup yang prima. Demikian juga dengan Berita dan Opini yang baik dan sehat insyaaAllah akan mengembangkan perilaku dan budi pekerti yang baik.

Itulah harapan pendiri dan penggagas situs NetizenPosts ini. Semoga memberi banyak manfaat pada kehidupan yang lebih baik di tengah banjirnya informasi, berita dan opini di media sosial.

Kirim Berita dan Opini anda ke: netizenposts@gmail.com, atau admin@netizenposts.com, atau kirim WA ke: 081296092301


DEWAN REDAKSI

Direktur Utama :  Lies Liany, MBA

Direktur Operasi : Ben Gentolet, MM

Direktur Pengembangan Usaha : Ram Julio, MSc

Pimpinan Redaksi : Nina Chur

Kontributor Berita : Tan Kalih, Des Ella, Beteha (Indonesia); Tra Woh (Eropa); Fazhari (Singapore); San Dehars (Australia)


DISCLAIMER

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi Netizens baik sebagai pengirim Berita dan/atau Opini maupun sebagai pembaca setia NetizenPost.Com. Namun, kami tidak bertanggung-jawab atas isi dan cara penulisan serta penyampaian Berita maupun Opini yang dikirimkan Netizens.Segala risiko hukum yang ditimbulkannya merupakan tanggung jawab pengirim tulisan. Dengan pernyataan ini, kami terbebas dari segala tuntutan hukum jika terjadi segala sesuatu terkait artikel yang dimuat pada website NetizenPost.Com ini.

Salam,

Manajemen NetizenPosts.com

Advertisements

OPINI: “Melanjutkan Bisnis Hulu Migas Nasional”

Oleh: Salis S. Aprilian *)

Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (Permen ESDM) No. 15 tahun 2015 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Yang Akan Berakhir Masa Kontrak Kerja Samanya telah mengatur tentang kelanjutan operasi minyak dan gas bumi (migas) setelah wilayah kerja para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) habis masa kontraknya dengan pemerintah Indonesia.

Dalam Pasal 2 dinyatakan bahwa pengalihan pengelolaan itu dapat diserahkan langsung kepada PT Pertamina (Persero), diberikan perpanjangan kontrak kerja sama oleh Kontraktor, atau pengelolaan secara bersama antara Pertamina dan Kontraktor.

Di sinilah lalu muncul upaya untuk melakukan negosiasi agar kontraktor lama masih dapat diberi kesempatan melanjutkan operasi dan bisnisnya di wilayah kerja yang berakhir masa kontraknya tersebut.

Apa sebetulnya yang menarik di dalam bisnis hulu migas ini, sehingga kita harus memperjuangkan agar wilayah kerja yang berakhir masa kontraknya ini terlebih dulu ditawarkan kepada Pertamina, sebagai perusahaan negara, untuk melanjutkan pengelolaannya ?

Pertama, operasi hulu migas adalah ladang pertaruhan investasi dan pendapatan yang penuh risiko tetapi dapat menghasilkan gain yang luar biasa berlipat. Dan, untuk wilayah kerja yang sudah berproduksi akan memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dengan pendapatan (gain) yang lebih pasti, jika dibandingkan dengan wilayah kerja eksplorasi.

Artinya, minyak dan gas sudah jelas ada di wilayah itu. Tinggal bagaimana kontraktor dapat memproduksikannya dengan efektif dan efisien sehingga mendatangkan keuntungan yang maksimal.

Dengan perkembangan pengetahuan, teknologi dan inovasi di bidang perminyakan yang tidak kunjung berhenti, akan selalu ada peluang untuk meraih sukses dan keuntungan dari keberadaan migas yang terpendam di bawah bumi sana meski sudah lama diproduksikan.

Dinamika “gain or loss” yang selalu menyertai operasi untuk menggali keberadaan migas yang tak tampak oleh mata malah menjadikannya bisnis ini selalu menarik bagi investor.

Kedua, migas bukan lagi sebagai komoditi (barang dagangan) saja, tetapi sudah merupakan barang penggerak ekonomi dan pembangunan, bahkan memiliki nalai strategis pertahanan negara.

Dengan serangkaian kegiatan yang terlibat pada sektor hulu migas, beberapa kegiatan lain akan terciptrat keuntungannya. Inilah yang disebut dengan “multiplier effects” bisnis hulu migas yang sangat signifikan magnitude-nya, dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama jika dibandingkan bisnis lainnya.

Ketiga, jika tata kelola kegiatan hulu migas berjalan baik, maka kebutuhan terhadap energi fosil yang banyak menfaatnya bagi hajat hidup orang banyak ini dapat terpenuhi dalam jangka waktu yang lama.

Kemandirian bidang energi menjadi sangat penting untuk memperkuat posisi negara di tengah meningkatnya kebutuhan energi dunia masa kini dan di masa depan dengan sumberdaya yang makin menipis.

Perlu Keberpihakan

Ketiga faktor itulah yang harus dilihat manakala kebijakan melanjutkan operasi hulu migas di Indonesia diterapkan. Permen ESDM di atas telah cukup mengatur peralihan pengelolaan (operatorship) dari pemegang kontrak yang lama kepada pemegang kontrak yang baru.

Namun lagi-lagi kehadiran dan keberpihakan pemerintah diperlukan ketika Pertamina, sesuai Permen ESDM tersebut, sebagai perusahaan negara, menerima mandat untuk melanjutkan operasi (sebagai Kontraktor baru) pada suatu wilayah kerja yang berakhir kontraknya.

Jangan sampai terjadi masalah pada penyerahan data dan informasi, pengalihan tenaga kerja, kelanjutan kontrak-kontrak dengan para vendor, kelanjutan proyek-proyek yang sedang berjalan, pelaksanaan program K3LL (keselamatan dan kesehatan kerja dan lindung lingkungan), dan lain-lain.

Jika Permen ESDM ini dijalankan dengan keberpihakan pada perusahaan negara, sudah barang tentu Pertamina akan memiliki asset yang semakin besar nilai (vualuasi)nya. Deviden bagi negara pun semakin besar.

Dalam hitungan di atas kertas, banyak hal yang harus diselesaikan dalam sepuluh tahun mendatang, pada saat beberapa KKKS mengakhiri masa kontraknya dengan Pemerintah Indonesia.

Maka, baik Pertamina maupun Pemerinah seharusnya sudah membuat langkah strategis dan tindak lanjut yang efektif agar pengalih-kelolaan ini dapat berjalan sukses.

Tindak Lanjut

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah langkah prioritasi. Beberapa wilayah kerja Pertamina yang yang tersebar di berbagai wilayah dengan ribuan sumur yang sudah di bor sejak jaman Belanda perlu dikaji ulang.

Wilayah kerja mana yang masih menjanjikan menyimpan cadangan migas harus segera diidentifikasikan.

Dengan demikian, besarnya asset plus potensinya serta risiko yang ada dapat dipetakan dengan lebih seksama.

Langkah selanjutnya adalah melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Perusahaan Swasta Nasional untuk dapat mengelola asset yang begitu besar dengan lebih efektif dan efisien. Program Kerjasama Operasi (KSO) yang selama ini dijalankan Pertamina dapat diteruskan dengan pengendalian yang lebih baik.

Pemangkasan birokrasi mesti dilakukan. Desentralisasi sistem pengelolaan (decentralization management) dengan transparan segera diterapkan. Pemberdayaan orang-orang setempat (yang bertempat tinggal di sekitar daerah operasi) lebih dilibatkan.

Melalui in-house training dan coaching Pertamina, perusahaan daerah dapat meningkatkan kapasitas dan kinerjanya. Pekerja Pertamina dapat mewariskan pengalaman dan pengetahuan pada generasi muda di daerah.

Dengan demikian tidak ada kegamangan Perusahaan Nasional untuk dapat dengan cepat mengalihkan pengelolaan assetnya ke Perusahaan Daerah dan Swasta Nasional yang terseleksi dengan baik melalui KSO atau dalam bentuk lain di bawah kontrol Kementrian ESDM, BUMN, dan Keuangan.

Jika kerjasama dan alih kelola itu terjadi dengan baik, maka Pertamina, sebagai Perusahaan Nasional, dapat lebih difokuskan untuk menangani wilayah kerja yang besar peninggalan KKKS multinasional dan mengelola asset yang kian tumbuh di luar negeri.

Dengan jumlah lulusan perguruan tinggi yang sudah demikian banyak sekarang ini, dan teknologi yang mudah didapatkan di pasaran, serta dukungan finansial di pasar modal maupun dari beberapa perusahaan keuangan yang terus tumbuh dan transparan, maka bukan tidak mungkin desentralisasi pengelolalaan asset sektor hulu migas ini akan cepat mendorong kenaikan produksi migas nasional dengan ongkos produksi yang lebih efisien.

Aset-aset besar peninggalan KKKS multinasional dalam sepuluh tahun ke depan pun akan dapat dikelola dengan baik oleh Pertamina selaku pengemban utama amanat dari Permen ESDM No 15/2015 tersebut.

Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di luar negeri dapat ditingkatkan dengan upaya dapat membawa hasil produksi migas dari negara-negara tersebut ke kilang-kilang kita, atau pabrik petrokimia dalam negeri, yang membutuhkan bahan baku (feed stock) untuk jangka panjang.

Yang dibutuhkan adalah penyatuan kegiatan hulu dan hilir dalam berinvestasi di suatu negara agar diperoleh hasil yang maksimal.

Pemerintah pun harus mendorong institusi dan/atau perusahaan yang terkait dengan kegiatan Pertamina di luar negeri, seperti bank nasional, perusahaan konstruksi nasional, telekomunikasi, petrokimia, dan lain-lain.

Inilah impian “Indonesia incorporated” untuk berlaga di dunia internasional yang telah lama digaungkan namun belum juga dapat direalisasikan. Semoga dengan mengambil momentum yang baik dari peralihan pengelolaan bisnis hulu migas ini impian tersebut akan segera terwujud. (***)

.

LISTRIK NYALA DI DESA DUAKORAN PERBATASAN RI-RDTL

NetizenPosts, Atambua, 10/02/2017, 17.51 WIB;

Senyum berkembang di wajah warga Kampung Wehedan saat listrik sudah masuk ke desa mereka. Wakil Bupati Belu J.T. Ose Luan meresmikan penyalaan listrik di daerah perbatasan dengan negara Republik Demokrat Timor Leste (RDTL), persisnya di Desa Duakoran, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, NTT, Rabu (8/2). Pelanggan awal sebanyak 125 rumah.

Penyalaan ditandai dengan Ose Luan melakukan input angka token listrik perdana pada pelanggan Kapela (gereja katolik kecil) Wehedan di Kampung Wehedan, Desa Duakoran. Kapela Wehedan sekaligus dimanfaatkan sebagai lokasi acara peresmian.

Pengisian token listrik perdana sukses dan penyalaan pembatas arus listrik disaksikan General Manager PLN NTT Richard Safkaur, Manajer PLN Area Kupang Elpis Sinambela serta Camat Raimanuk Marius F. Loe dan Kepala Desa Duakoran Edmundus Ulu.

Daniel Bria (53th), warga Kampung Wehedan, yang sehari-harinya bekerja sebagai guru pada SD Wehedan, menyambut gembira, hadirnya listrik di Desa Duakoran. “Dengan adanya listrik di desa kami, proses belajar mengajar akan lancar dan lebih baik. Anak-anak bisa punya waktu belajar lebih lama pada malam hari,” kata Daniel Bria.

“Kami sudah lama sekali menunggu kapan kegelapan berakhir, hari ini kami langsung lupa masa gelap itu begitu listrik masuk dan menyala di desa kami,” tambah Daniel Bria dengan senyum mengembang.

Sedangkan Olandino Lau (39th), seorang petani, juga warga Kampung Wehedan, dengan mata berbinar-binar mengungkapkan kegembiraannya menyambut listrik menyala untuk pertama kali di kampungnya. Ayah dua anak ini senang, karena dengan adanya terang listrik pada malam hari, istrinya sudah bisa menenun malam hari dan bisa bekerja memecah biji kemiri.

General Manager PLN Wilayah NTT Richard Safkaur, dalam sambutannya mengatakan PLN melaksanakan tugas pemerintah melayani kebutuhan listrik masyarakat di desa-desa perbatasan negara, sebagai wilayah terdepan. Desa Duakoran, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, merupakan wilayah terdepan Indonesia berbatasan dengan negara RDTL.

Safkaur juga menegaskan tekad PLN NTT melistriki semua desa yang belum berlistrik di NTT sebanyak 1.182 desa dalam waktu satu tahun. Khusus di Belu masih ada lima desa yang belum berlistrik.

“Namun kami membutuhkan dukungan penuh dari pemda (pemerintah daerah) dan masyarakat, untuk mengijinkan lahan tempat mendirikan tiang listrik, dan mengijinkan pohon ditebang untuk dilewati kabel listrik. Dukungan pemda berkaitan dengan perijinan melewati kawasan hutan,” tambah Safkaur.

Wakil Bupati Belu J.T. Ose Luan menyampaikan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang melalui PLN telah menyediakan listrik bagi warga desa di Kabupaten Belu, khususnya warga di Desa Duakoran.

Kepada warga desa, Ose Luan meminta warga menggunakan fasilitas listrik untuk memajukan dan meningkatkan banyak hal yang lebih produktif. Misalnya, ibu-ibu bisa menenun pada malam hari dan anak-anak belajar lebih baik agar lebih berprestasi.

“Saya ini produk belajar pakai lampu ti’oek (lampu teplok), karena itu saya harap adanya listrik akan membuat anak-anak lebih berprestasi,” kata Ose Luan diselingi bahasa daerah setempat yang disambut tepuk tangan warga yang memenuhi Kapela Wehedan.

Pembangunan listrik ke Desa Duakoran yang berlokasi sekitar 30 km arah selatan Atambua, ibukota Kabupaten Belu, menurut Wayan Adi (Manajer Rayon Atambua), dikerjakan selama lima bulan sejak September 2016. PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) 20 kilovolt sepanjang 5,6 kilometer sirkuit (KMS) dan jaringan tegangan rendah (JTR) 220 volt sepanjang 5,5 kms.

Sedangkan lima desa di Kabupaten Belu, yang belum berlistrik, yakni Desa Dubesi, Lawalutolus, Faturika, Mandeu Raimanus, dan Desa Renrua.(***)


(: Ram Julio, NP-2017)

Produksi Migas Awal Tahun Lebihi Target

Netizenpost, Jakarta, 10/02/2017, 17.39 WIB ;

Produksi minyak dan gas bumi (migas) hingga awal Februari 2017 menunjukan hasil yang menggembirakan. Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, per 7 Februari, rata-rata produksi minyak bumi sebesar 825,7 ribu barel per hari (BPH). Angka ini melebihi target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2017 yang sebesar 815 ribu BPH. Untuk gas bumi, produksinya sebesar 7.821 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
“Dengan dukungan semua pihak, kami optimis target produksi migas tahun 2017 dapat terlampaui,” kata Kepala Humas SKK Migas, Taslim Z. Yunus di Jakarta, Kamis (9/2).

Dia menjelaskan, apabila tidak ada kegiatan baru, penurunan produksi minyak tahun 2017 diproyeksikan sebesar 16,2 persen. Untuk menjaga tingkat produksi, dilakukan kegiatan seperti pengeboran, perawatan, dan kerja ulang sumur, serta optimasi fasilitas. “Dengan upaya tersebut, penurunan produksi minyak dibanding tahun 2016 dapat ditekan hingga menjadi 2,8 persen,” kata Taslim.

Pada Januari 2017, sebanyak empat sumur pengembangan telah dibor dari target sebanyak 223 sumur. Untuk kerja ulang, telah terealisasi sebanyak 45 sumur dari yang direncanakan sebanyak 907 sumur. Sedangkan perawatan sumur terealisasi 1.257 sumur dari rencana 57.512 sumur. Untuk mencari cadangan baru SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) menjalankan program survei seismik dan pengeboran sumur pengeboran. Periode Januari 2017, terlaksana satu survei seismik dari rencana 40 kegiatan. Untuk pengeboran eksplorasi terealisasi dua sumur dari rencana 134 sumur.

Selain itu, pada periode 1 Januari – 4 Februari 2017, terdapat 68 kejadian gangguan operasi produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) dengan potensi kehilangan produksi sebanyak 3.960 BPH. Untuk gas bumi, terdapat 21 kejadian gangguan produksi yang menyebabkan potensi kehilangan produksi sebesar 30 MMSCFD.

“SKK Migas dan Kontraktor KKS terus berkoordinasi untuk mengoptimalkan realisasi kegiatan dan meminimalisir terjadinya unplanned shutdown,” kata Taslim. (***)


(: Ram Julio, NP-2017)

 

PHE WMO Bersinergi dalam Pemenuhan Target Lifting Nasional Melalui Kondensat Madura

NetizenPosts, Gresik, 10/2/2017, 15.45 WIB ;

 

Setelah pada tanggal 27 Januari 2017 yang lalu PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) selaku anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sekaligus pemegang operatorship blok KKKS WMO mulai menyalurkan Gas Terproses ke PT Pertamina Gas (Pertagas), maka pada hari Rabu 08 Februari 2017 PHE WMO mulai menyalurkan kondensat kepada pembeli berdasarkan Perjanjian Jual Beli Kondensat (PJBK) antara pihak Penjual yaitu PHE WMO, Kodeco Energy Co. Ltd. (Kodeco), PT Mandiri Madura Barat (MMB) dan PT Pertamina EP (PEP) dengan pihak Pembeli yaitu PT Pertamina (Persero) – Petrochemical (Petchem) yang telah ditandatangani pada tanggal 25 Januari 2017.

Sri Budiyani selaku General Manager PHE WMO menjelaskan bahwa Kondensat Madura yang dialirkan ke Petchem merupakan bagian yang dikembalikan ke sektor hulu oleh Pertagas berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas Terproses (PJBGT). Pihak Penjual melalui PHE WMO telah mendapatkan Surat Penetapan Provisional ICP dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tanggal 30 Desember 2016 yang lalu untuk Provisional ICP Kondensat Madura. Sehingga untuk tahap awal Pihak Penjual sepakat untuk menanda-tangani PJBK untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, dimana setelah jangka waktu 1 (satu) tahun tersebut Petchem tetap mempunyai kesempatan untuk membeli Kondensat Madura tersebut.

Dengan penyaluran Kondensat Madura ke Petchem pada tingkat produksi optimum di kisaran rata-rata harian 850 BOPD yang merupakan bagian Pihak Penjual dan Pemerintah, tentunya akan memberikan kontribusi atas target lifting minyak mentah nasional. Selain daripada itu pihak Petchem akan melakukan pengangkutan Kondensat Madura melalui trucking, yang diperkirakan nantinya Petchem akan mengangkut secara harian Kondensat Madura dengan penyediaan truk pengangkut kondensat sekitar 6-8 truk per hari.

Selain Kondensat maka PHE WMO dan Pihak Penjual lainnya juga sudah mulai menerima pengembalian Lean Gas dari Pertagas yang langsung dialirkan untuk pemenuhan pasokan gas bagi Pembangkit Listrik Jawa Bali PT PLN (Persero) (“PLN-PJB”).

Sebagai penutup, Sri Budiyani menambahkan selain kecepatan persetujuan Pemerintah dalam menetapkan Provisional ICP untuk Kondensat Madura, bahwa transaksi bisnis PJBK dan PJBGT menunjukkan adanya sinergi yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara PT Pertamina (Persero) bersama anak usahanya yaitu PHE WMO, PEP dan Pertagas dan para mitra bisnis PHE WMO yaitu Kodeco dan MMB dalam membantu Pemerintah untuk memenuhi target lifting 2017 dan juga pasokan Gas Terproses untuk pemenuhan kebutuhan LPG yang penyediaan LPG nya dilakukan oleh Pertagas.


(:Ram Yulio, NP-2017)

Konsorsium Pertamina, Marubeni, dan Sojitz Tandatangani PPA Jawa 1 dengan PLN

NetizenPosts, Jakarta, 31/01/2017, 12.07 WIB ;
JAKARTA, 31 Januari 2017 – Konsorsium PT Pertamina (Persero), Marubeni Corporation, dan Sojitz Corporation bersinergi dengan PT PLN (Persero) untuk kesuksesan program 35.000 MW melalui pembangunan PLTGU terintegrasi FSRU pertama di Asia, Independen Power Producer Jawa-1 berkapasitas 1760 MW dengan investasi senilai US$1,8 miliar.
Proyek yang menjembatani sinergi 2 BUMN terbesar di Indonesia, yaitu Pertamina dan PLN, ditandai dengan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) untuk IPP PLTGU Jawa-1 di Jakarta hari ini, Selasa (31/01). Penandatanganan dilakukan antara konsorsium IPP yang direpresentasikan oleh Ketua Konsorsium sekaligus Direktur Utama PT Jawa Satu Power Ginanjar dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan disaksikan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.
“Kami memberikan apresiasi tertinggi kepada PLN atas pelaksanaan tender IPP PLTGU Jawa-1 yang terbuka, transparan dan kompetitif, serta atas kepercayaan kepada Konsorsium Pertamina-Marubeni-Sojitz yang telah ditunjuk sebagai pemenang Proyek IPP PLTGU Jawa-1. Proyek ini menjadi bukti nyata sinergi dua BUMN besar Indonesia, Pertamina sebagai Energi Company dan PLN sebagai perusahaan listrik nasional,” kata Dwi Soetjipto dalam sambutannya.
Pertamina bersama dengan Marubeni Corporation dan Sojitz Corporation telah berhasil memenangkan dan menandatangani PPA proyek IPP PLTGU Jawa -1 dengan nilai sekitar US$1,8 miliar. Proyek IPP PLTGU Jawa-1 merupakan kolaborasi internasional yang melibatkan 18 mitra Internasional maupun domestik (Indonesia, Jepang, Korea, Amerika, dan Eropa).
PLTGU Jawa-1 merupakan pembangkit listrik berbasis gas pertama di Asia yang mengintegrasikan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dengan PLTGU (Combined Cycle Gas Turbine : CCGT). PLTGU ini akan dibangun di Cilamaya, Jawa Barat. Dengan kapasitas 1760 MW, PLTGU Jawa 1 menjadi pembangkit listrik berbahan bakar gas terbesar di Asia Tenggara.
“Momentum ini menjadi salah satu pijakan penting bagi Pertamina dalam memulai bisnis IPP sekaligus menegaskan posisi dan perannya untuk mencapai visi sebagai World Class Energy Company. Kami juga sangat mengapresiasi kerjasama yang erat dan sangat baik dari seluruh mitra konsorsium, termasuk konsorsium lenders, untuk mendapatkan kepercayaan hingga pada tahapan ini. Selanjutnya, kerjasama yang tidak kalah erat diperlukan untuk dapat mewujudkan proyek ini dengan tepat waktu dan tepat biaya,” ungkap Dwi.
Sebagai bagian dari program 35000 MW, IPP PLTGU Jawa-1 sangat penting bagi upaya pemerintah dan PLN melakukan percepatan untuk melistriki lebih banyak keluarga dan konsumen listrik di Tanah Air. (***)


 

(: Ben Gentolet, NP-2017)

Pertamina Mulai Proses Pemilihan Licensor RDMP Cilacap dan NGRR Tuban

NetizenPosts, Jakarta, 30/01/2017, 15.46 WIB

 

PT Pertamina (Persero) memulai pelaksanaan pemilihan licensor untuk proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU IV Cilacap dan New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban yang keduanya ditargetkan on stream pada akhir 2021.
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rachmad Hardadi mengatakan sesuai dengan jadwal, saat ini proses pemilihan licensor untuk RDMP RU IV dan NGRR Tuban sedang dilakukan untuk mendapatkan teknologi yang sangat menentukan keekonomian dan keandalan. Proses ini, katanya, menentukan ketepatan waktu pelaksanaan proses selanjutnya yaitu Front End Design (FEED) dan konstruksi (EPC).
“Seperti diketahui, Pertamina telah bertekad untuk menjawab tantangan pasar yang tinggi perhatiannya akan lingkungan bersih, disisi lain Pertamina juga akan terus berupaya untuk lebih kompetitif dan bersaing. Dengan demikian, keandalan teknologi dan keekonomian proyek menjadi tuntutan sehingga peranan licensor yang capable dan internationally recognized menjadi sangat penting dalam proyek ini,” kata Hardadi.
Sebanyak 30 perusahaan akan bersaing untuk menjadi licensor pada proyek NGRR Tuban. Adapun, posisi licensor pada proyek RDMP RU IV Cilacap diperebutkan oleh sebanyak 15 perusahaan.
Pertamina dan para mitra akan mengikuti proses seleksi secara detail dan komprehensif dalam memilih teknologi yang paling sesuai untuk GRR Tuban & RDMP Cilacap. Dalam menjalankan proses pemilihan ini, Pertamina, Pertamina dibantu oleh konsultan yang memiliki reputasi Internasional.
“Seluruh keputusan yang dilakukan adalah keputusan Pertamina dan mitra,” ungkapnya.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan kemajuan yang dicapai pada hari ini semakin menunjukkan langkah konkret Pertamina dalam upaya membangun kilang. Berdasarkan jadwal, pemilihan licensor untuk RDMP RU IV Cilacap ditargetkan tuntas pada akhir kuartal I 2017, sedangkan NGRR Tuban selesai pada akhir kuartal II 2017.
Pertamina saat ini dalam proses penyelesaian Bankable Feasibility Study (BFS) dan pelaksanaan AMDAL proyek NGRR Tuban yang ditargetkan selesai pada Juni 2017. Adapun, proyek RDMP RU IV Cilacap tengah dalam proses penyelesaian Basic Engineering Design (BED) yang ditargetkan pada Maret 2017, sedangkan AMDAL selesai pada Juli 2017.
“RDMP RU IV Cilacap akan dilakukan groundbreaking pada Kuartal IV, sedangkan NGRR Tuban groundbreaking akan dilaksanakan pada Kuartal III, dan yang paling cepat dilakukan groundbreaking adalah RDMP RU V Balikpapan yaitu pada kuartal I tahun ini. Artinya, akan pekerjaan fisik kilang yang sudah dapat dimulai tahun ini sehingga dengan demikian rencana pembangunan kilang oleh Pertamina semakin konkret,” kata Dwi.
RDMP RU IV Cilacap akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang sebesar 15% menjadi 400 ribu barel per hari. Namun, dengan Nelson Complexity Index yang semakin tinggi RU IV Cilacap nantinya dapat menambah produksi gasoline sebanyak 80 ribu barel per hari, diesel sebanyak 80 ribu barel per hari dan tambahan Avtur 30 ribu barel per hari.
RDMP RU V Balikpapan meningkatkan kapasitas pengolahan sebesar 38,5% menjadi 360 ribu barel per hari dengan produksi masing-masing bertambah sebanyak 80 ribu barel per hari gasoline, 70 ribu barel per hari diesel, dan 30 ribu barel per hari Avtur. Sementara itu, NGRR Tuban yang berkapasitas pengolahan 300 ribu barel per hari akan memproduksi 90 ribu barel per hari gasoline, 100 ribu barel per hari diesel dan 30 ribu barel per hari Avtur.
“Semua hasil produksinya akan berspesifikasi Euro 5 atau lebih tinggi ari tuntutan pasar saat ini Euro 4,” tutur Rahmad Hardadi.(***)

 


(:Ben Gentolet, NP-2017)

Tingkatkan Ketahanan Energi dan Perekonomian Rakyat, Menteri ESDM Siap Bagikan 24.000 Konverter Kit ke Nelayan Kecil

NetizenPosts, Jakarta, 28/01/2017, 17.02 WIB ;

 

Pada hari ini, Jumat (27/1) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bertatap muka dengan para nelayan di Kecamatan Abang Kabupaten Karangasem, Bali yang telah menerima 625 unit paket konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) Tahun Anggaran (TA) 2016. Di samping itu, Menteri ESDM juga menargetkan untuk memberikan bantuan paket konverter kit sebanyak 1.116 unit untuk nelayan kecil di Kabupaten Karang Asem pada TA 2017.

Program ini merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam diversifikasi BBM ke BBG dan untuk meningkatkan ketahananan energi dan perekonomian masyarakat nelayan serta menekan subsidi BBM. “Sesuai arahan Presiden, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ini uangnya rakyat, jadi dikembalikan ke rakyat seoptimal mungkin,” ungkap Menteri Jonan.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menugaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pelaksanaan program penyediaan dan pendistribusian Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kg untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil. “Kami khususkan bagi nelayan kecil yang memiliki kapal perikanan yang menggunakan mesin motor tempel atau mesin dalam yang beroperasi harian/one day fishing,” jelas Menteri ESDM.

Pemerintah telah menetapkan kriteria bagi para penerima manfaat yang mendapatkan paket perdana konversi BBM ke BBG, antara lain nelayan yang memiliki kapal ukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT), yang memiliki bahan bakar bensin atau solar dan kapal yang digunakan memiliki daya mesin di bawah 13 Horse Power (HP). Sedangkan jenis alat tangkap yang digunakan adalah alat tangkap yang ramah lingkungan, serta belum pernah menerima bantuan sejenis dari Pemerintah Pusat, Daerah atau Badan usaha.

Melalui penggunaan LPG, para nelayan akan menghemat pengeluaran harian dalam penggunaan BBM utk kebutuhan melaut (one day fishing) sebesar 24,69% atau sekitar Rp11.150 per hari, apabila harga LPG 3Kg/tabung sebesar Rp34.000 (LPG non subsidi). Bahkan, mereka bisa menghemat hingga 62,35% atau sekitar Rp28.150 per hari, apabila harga LPG 3 Kg/tabung sebesar Rp17.000 (LPG Subsidi). “Ini memberikan dampak positif bagi ekonomi nelayan karena mereka bisa menghemat pengeluaran biaya bahan bakar,” ujar Menteri Jonan.

Untuk Tahun 2017 Pemerintah merencanakan pembagian konverter kit sebanyak 24.000 unit di 26 Kabupaten/kota di Indonesia, termasuk 1.116 unit diantaranya akan dibagikan di Kabupaten Karangasem, Bali. “Tahun ini membutuhkan 1.116 unit, kami akan penuhi. Kami kasih 1.120, empatnya buat cadangan,” ungkap Menteri Jonan.

Pembagian paket terdiri dari mesin kapal, konverter kit serta pemasangannya, dan tabung LPG 3 kg beserta isinya.”Semoga dengan pemberian ini membantu ekonomi mereka menuju ekonomi masyarakat yang lebih baik dan energi yang ramah lingkungan,” harap Menteri ESDM.

Selain itu, Menteri ESDM menghimbau agar pemanfaatan konverter kit dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana yang ditetapkan. “Kami terus lanjutkan program ini apabila diperlukan. Apabila sudah tidak diperlukan (anggaran) akan diprioritaskan ke yang lain,” tutup Menteri Jonan.(***)

 


(: Ben Gentolet, NP-2017)

PLN Dukung Lombok Jadi Kawasan Pariwisata Utama

NetizenPosts, Jakarta, 27/01/2017, 19.21 WIB ;

Lombok, 27 Januari 2017 – Sebagai wujud kepedulian PLN dalam pengembangan pariwisata dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, PLN memberikan bantuan kepada para nelayan dan warga setempat berupa mesin kapal dan bibit sapi dengan nilai total bantuan lebih dari 500 juta rupiah (27/1). Adapun total bantuan CSR dari Kementerian BUMN dan seluruh BUMN mencapai 9,5 milyar rupiah untuk pengembangan kawasan tersebut.

Bantuan ini diberikan bersamaan dalam rangkaian acara BUMN Hadir untuk Negeri untuk membangun sinergi BUMN yang digelar di Mandalika. Dalam kesempatan ini, Sinergi BUMN mengusung tema “Bersama ke Mandalika Bergerak untuk Indonesia”. Hadir dalam acara, yakni Menteri BUMN Rini Soemarno beserta jajaran deputi dan direksi dari 118 perusahaan milik Negara.

Dalam acara tersebut, Menteri BUMN Rini Soemarno mengungkapkan bantuan CSR dilakukan demi kemajuan pariwisata Mandalika dan sekitarnya. Pemilihan kawasan Mandalika merupakan bentuk dukungan BUMN terhadap program pemerintah dalam percepatan pembangunan Mandalika sebagai destinasi halal tourism terbaik dunia, sekaligus sebagai destinasi wisata cruise.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN Machnizon Masri mengungkapkan bantuan ini menjadi bukti kehadiran PLN untuk mendorong perkembangan kawasan Mandalika sebagai salah satu destinasi pariwisata utama baru sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Mandalika. Sejalan dengan hal itu, PLN saat ini juga tengah mendirikan 15 rumah kreatif bersama yang tersebar di Indonesia.

Seperti yang diketahui, Kawasan Mandalika ini menjadi salah satu dari 10 destinasi prioritas dan juga masuk ke dalam KEK yang sebelumnya telah ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata. Penetapan destinasi prioritas dan KEK tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara yang ditargetkan mencapai 20 juta kunjungan pada tahun 2019 mendatang.

Kegiatan BUMN Hadir untuk Negeri kali ini digelar di empat lokasi berbeda, yakni di Tanjung Aan, Bukit Meresek, Desa Ende dan Desa Sembalun, Rinjani yang seluruhnya dirangkai dengan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) di bidang pariwisata, pendidikan, lingkungan dan infrastruktur.(***)


(: Ben Gentolet, NP-2017)

Gubernur Papua: PT. Freeport Indonesia harus segera menyelesaikan tunggakan pajaknya sebesar Rp. 3,5 triliun kepada rakyat Papua

NetizenPosts, Jakarta, 27/01/2017, 18.43 WIB ;

Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe menyatakan bahwa PT Freeport Indonesia (PT. FI) wajib menjalankan keputusan Pengadilan Pajak Indonesia berkaitan pembayaran pajak air permukaan. “ Pengadilan Pajak Indonesia pada tanggal 17 Januari 2017 telah memutuskan untuk menolak gugatan yang diajukan oleh PT Freeport Indonesia berkaitan pajak air permukaan dan wajib membayar tunggakan pajaknya, baik pokok dan dendanya sebesar kurang lebih Rp. 3,5 Triliun kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua. Itu harus segera diselesaikan” tegas Gubernur Papua pada konferensi pers yang dilaksanakan Jum’at 27 Januari 2017 di Hotel Pullman, Jakarta, menanggapi hasil keputusan Pengadilan Pajak Indonesia.
Gubernur Enembe menjelaskan bahwa munculnya gugatan pajak oleh PT. FI dikarenakan Pemerintah Papua menagih kekurangan pembayaran pajak oleh PT Freeport Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) didalam hasil auditnya. “BPK dalam hasil auditnya mempertanyakan kekurangan pembayaran pajak PT. FI terhadap penggunaan air permukaan dari tahun 2011 sampai 2015. Kami sebagai pemerintah daerah kemudian mengirimkan surat ke pada PT. FI untuk segera menyelesaikan kekurangan pajak dimaksud. PT. FI menolak untuk menyelesaikan kekurangan tersebut dan melakukan gugatan ke Pengadilan Pajak Indonesia. Puji Tuhan gugatan tersebut ditolak”. Sambung Enembe.
PT. FI, menurut Gubernur Papua, menggunakan acuan pembayaran pajak penggunaan air permukaan sebesar Rp. 10/m3/detik sesuai Peraturan Daerah (Perda) No. 5 Tahun 1990, sementara pemerintah daerah Papua mengacau pada Perda No 4 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa penggunaan air permukaan dikenai pajak sebesar Rp. 120/m3/detik. Perbedaan inilah yang menjadi tagihan pajak yang belom dibayarkan oleh PT. FI.
Gubernur sangat bersyukur bahwa gugatan tersebut di tolak, karena ini berkaitan dengan harkat dan martabat rakyat Papua sebagai pemilik tanah yang diberkati ini. “Perjuangan untuk mendapatkan dana sebesar ini bukan perkara mudah, karena kami berhadapan dengan perusahaan besar, PT. Freeport Indonesia yang semua orang sudah tahu. Hanya karena ini berkaitan dengan hak yang memang sudah seharusnya menjadi milik rakyat Papua maka kami perjuangkan sekuat dan semampu kami” tutup Gubernur Lukas Enembe. (***)


 

(: Ben Gentolet, NP-2017)