INSPIRASI: “SEBELUM PELUIT BERBUNYI”

Oleh: Ary Ginanjar

NetizenPosts, Jakarta, 23/1/2017; 17.31 WIB ;

Menjelang liga kompetisi, di pinggir lapangan rumput yg hijau ada seorang pemain berkata, ” yang penting kita ini harus ikhlas kepada takdir, dan tawakkal saja pada hasil, karena semua sudah ada suratannya, jadi kita santai saja”.

Pemain ini tidak mau bicara strategi, tidak mau berlari-lari mengejar bola. Ia lebih banyak menunggu bola, lalu berkata ” saya tunggu takdir kapan bola akan mampir ke kakiku”.

Lalu tiba-tiba peluit berbunyi dan kita teringgal 11-0….barulah kita sadar bahwa kita kalah…

Coba lihatlah di sekitar kita. Beginilah kebanyakan yang terjadi, ” kalah sebelum bertanding, pasrah sebelum bertarung”. Akibatnya kita kalah di mana-mana. Kalah di semua sektor. Kalah di segala sisi. Khususnya kalah di sisi ekonomi…. kalah di dunia yang penuh persaingan.
Kalah dalam “fastabiqul khoirot”.

Sekarang seolah kita baru tersadar…kita baru terbangun dari tidur.., tapi semua sudah dimiliki dan sudah dikuasai orang lain. Kita hanya mayoritas dari sisi jumlah. Tapi minoritas dari sisi politik dan ekonomi. Kata Nabi ” lemah seperti buih di samudra “.
Ibarat dalam sebuah pertandingan sepak bola, kita baru sadar dan terbangun bahwa kita telah kebobolan 11- 0 ….!!!

Kalau kita ingin merubah nasib kita harus merubah cara. Karena kalau masih terus melakukan hal yg sama tidak mungkin kita menghasilkan hasil yg berbeda.

Coba lihat Siti Hajar….ia berlari-lari dan berlari seraya berusaha. Bukan diam, diam dan diam seraya berpasrah.
Bukan juga berlari sekali lalu berhenti…, tapi harus tujuh kali tiada henti ! Ingat Shafa-Marwah itu syiar Allah.

Jangan lupa juga bahwa iman pada takdir terletak di no 6 dalam urutan rukun iman, bukan di nomor satu.

Kita mesti berubah. Dan perubahan yg utama bukan karena kesempatan dan peluang usaha, serta adanya sarana dan prasarana, tapi PERUBAHAN PADA JIWA MANUSIA. Karena Allah telah menggariskan ini, bahwa, ” tidak berubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah jiwa “.

Sisa waktu pertandingan sepak bola masih ada.., dan peluit belum dibunyikan… Masih ada sisa waktu meskipun tinggal sedikit saja….

Dengar kata muazin “Ayo meraih kemenangan”,
bukan menunggu nasib sampai dikalahkan.
Hayya alassholah !
Hayya alal fallah !

Rawe-rawe rantas malang-malang putung !
Rambate rata hayo !
Ary Ginanjar


(: NP-001-01-2017)

Advertisements

INSPIRASI : “Jika Engkau”

NetizenPosts, Jakarta, 11/1/2017, 20.22 WIB ;

Oleh : K.H Maimun Zubair

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia…barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI….SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum”.(HR. Muslim)

Mari awali hari ini dg pikiran dan prilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin…

Renungan untuk kita selalu muhasabah…..
Semoga bermanfaat.🙏

OPINI: “Dagang”

NetizenPosts, Jakarta, 8/1/2017, 16.41 ;

 

Seorang Netizen mengirimkan tulisan ini. Sangat inspiratif.

Salim A Fillah | Quotes Telegram:
DAGANG (Bagian 2)
@salimafillah

Pernah makan cenil?

Itu makanan terbuat dari tepung kanji yang dimasak menjadi camilan kenyal seukuran ibu jari, dicomoti, dan tersaji warna-warni. Taburannya adalah kelapa parut yang dikukus bersama pandan wangi. Seperti lopis ketan yang memang sering ditawarkan bersamanya, kuah gula kental juga diguyurkan lengket-lengket di atasnya.

Nah, ini cerita tahun 1990-an ketika serombongan dosen dalam perjalanan melakukan penelitian di suatu pedesaan Yogyakarta.

Mereka berjumpa dengan seorang ibu tua penjual cenil keliling. Merasa agak sesat jalan, dengan gagah salah satu anggota rombongan turun dan bertanya tentang arah. Dengan ramah si ibu menjawab. Kala melihat dagangannya, tertariklah sang dosen bertanya, “Bu, jualan cenil begini sehari bisa dapat berapa?”

“Alhamdulillah Nak, kalau habis ya rata-rata bisa bawa pulang 50 ribu.” Di zaman itu, nilai ini kecil juga, tapi lumayan.

“Kami beli semua ya Bu. Ini uangnya 100 ribu.”

“E Allah, ya jangan semua to Nak. Ini saya masih keliling. Kasihan langganan lain yang siapa tahu menunggu-nunggu berharap saya lewat. Nanti kecewa, hehe… Nah sudah, dihitung saja, rombongannya ada berapa?”

“Ada 6 Bu. Tapi boleh ya kami beli banyak?”

“Lha rak tenan cuma enam. Lha kok mau beli banyak itu terus siapa nanti yang makan? Mubadzir malah dosa lho.”

“Kami kuat makan banyak kok Bu. Kayaknya cenilnya enak sekali.”

“E, ya ndak boleh berlebihan. Nanti kalau malah sakit perut bahkan diare bagaimana? Repot semua to? Sudah, ini saya bungkuskan 6 saja.”

“Ini uangnya njih Bu”, kata si dosen sambil tetap mengulurkan seratus ribuan.

“Lho, kalau 6 bungkus itu ya cuma 6 ribu. Saya ndak punya kembalian.”

“Lho Bu, ini kami ikhlas. Tolong seratus ribunya diterima.”

“Ya ndak bisa to Mas. Lha wong cenil kok seratus ribu hehe. Sudah kalau ndak punya uang kecil, dibawa saja cenilnya. Hadiah dari saya untuk Mas Guru-Mas Guru yang pinter-pinter, biar makin semangat mencerdaskan bangsa, seperti di tipi-tipi itu, hehe…”

“Kalau begitu, ibu ikut naik mobil kami ya, kami antar ke tempat jualannya.”

“Saya itu kalau naik mobil itu pusing dan mual je, hehe… Sudah monggo dilanjutkan perjalannya. Yang penting dunga-dinunga, saling mendoakan. Sugeng tindak.”

Duhai para jamhur sarjana, maka teori ekonomi manakah yang mampu menjelaskan perilaku dagang penjual cenil yang agung ini?

 


Sumber: https://www.instagram.com/p/BO8VEvLgSKG/

 


(: NP-01-001/2017)

 

Gemar Membaca

NetizenPosts, Abudabi, 29/12/2016, 13.45

 

Kita simak kiriman Netizen betikut ini.

nerizenposts-arwansyahjohan

Ir. H. Arwansyah Djohan


 

 

LOVE TO READ

أحب أن أقرأ

Ada beberapa cara orang membaca,

  1. Membaca dengan mata, disebut pembaca (Reader)
  2. Membaca dengan fikiran, disebut pemikir (Thinker)
  3. Membaca dengan hati nurani, disebut memahami (knowledgable)

Ketiga jenis membaca itu bisa dilakukan dalam waktu bersamaan, yaitu sambil membaca yang tersurat maupun yg tersirat dengan mata juga berfikir dan hati nurani nya terus menganalisa apa yang sedang dibacanya. Atau sekedar membaca secara cepat (quick read).

Kata yang pertama diturunkan, perintah pertama yang diperintahkan oleh Tuhan Pencipta alam semesta beserta isinya termasuk manusia, kepada pesuruh (messenger) – Nya adalah “إقراء. = Iqra!! = Bacalah !!!) untuk disampaikan kepada seluruh manusia di bumi ini hingga akhir masa.

Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَڪْرَمُ

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.”

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan pena.”

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS. Al-‘Alaq: Ayat 1-5)

Pada saat perintah ini diturunkan, saat itu belum ada yg namanya kitab atau buku, pun nabi tidak bisa baca dan tulis, maka bisa disimpulkan bahwa saat itu (nabi) diperintahkan untuk membaca dengan fikiran dan hati nurani.

Perintah pertama ini mengisyaratkan bhw membaca (yg tersurat dan tersirat) dan memahaminya adalah suatu kewajiban yg fundamental bg manusia. Tuhan sangat menghargai orang2 yg mau membaca, dengan membaca insya Allah akan diberi hidayah (petunjuk) untuk mengenal Tuhan yg sebenarnya, mendekatkan diri kepada-Nya dan mencintai-Nya.
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“… niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: Ayat 11)

 

(: Arwansyah Johan, 29 Desember 2016)

 


 

Reaksi vs Respon

NetizenPosts, Jakarta, 29/12/2016, 8.40 ;

Seorang teman Netizen mengirim ini. Cerita lama yang mungikin masih terus dapat dinikmati..

CEO Google, Sundar Pichai mulai banyak dikenal orang setelah menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome dan Android

Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato oleh Sundar Pichai kepada anak buahnya. Ia berpidato tentang kecoa. Kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan.

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita.

Dia mulai berteriak ketakutan.

Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut.

Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik.

Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi … kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok.

Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama.

Seorang pelayan wanita bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka.

Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan wanita.

Pelayan wanita berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa di kemejanya.

Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkan nya keluar dari restoran.

Menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikiran saya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka?

Jika demikian, maka mengapa pelayan wanita tidak terganggu?

Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun.

So, para hadirin.. CEO dari India ini kemudian bertanya:

“Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?”

Ia melanjutkan pidatonya..

“Dari tempat saya duduk, saya berpikir..

Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?

Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

Kecoa memang menjijikkan.
Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya.
Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.

Begitupun juga dengan masalah.

Macet di jalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, target yang besar, deadline yang ketat, customer yang demanding, tetangga yang mengganggu, dsb.

Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.

Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.”

Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.

Di situ saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu

Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.
Apa hikmah dibalik kisah inspiratif dari pidato ini?

Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan merespon.

Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik.

Sebuah cara yang indah untuk memahami HIDUP.

Orang yang BAHAGIA bukan karena semuanya berjalan dengan benar dalam kehidupannya..

Dia BAHAGIA karena sikapnya dalam menanggapi segala sesuatu di kehidupannya benar..!

Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai.

“Masalah adalah sebuah masalah ….. RESPONSE kita lah yg akan menentukan bagaimana akhir dari sebuah masalah ….”

Selamat menyambut Tahun Baru 2017
-eki.ramadhani


 

 

Ekonomi Indonesia Hadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan

NetizenPosts, Jakarta, 28/12/2016 ;


Opini ini telah dimuat dalam website Liputan6.com, Jakarta, 27 Desember 2016. Dengan seijin penulis, kami share untuk netizen di NetizenPosts ini.

Selamat membaca tulisan terbaru dari Prof Rhenald Kasali ini!



Proyeksi ekonomi Indonesia 2017 beserta angka-angka pertumbuhan, inflasi, lapangan kerja, peta investasi, dan seterusnya sudah sering Saudara baca.

Demikian juga ancaman dan peluang dari pasca terpilihnya Donald Trump dan dunia yang semakin protektif. Kehidupan berusaha dan berprofesi di tahun-tahun mendatang juga tidak akan lebih mudah karena muncul peta yang sama sekali baru.

Banyak hal-hal baru yang menakutkan incumbents hadir di depan mata. Salah satunya, proses penghancuran melalui inovasi, bisnis model, dan disrupsi.

Lawan-Lawan Tak Kelihatan

Yang jelas para usahawan tengah menghadapi kompetisi baru yang identitasnya tak begitu kelihatan. Seperti Blue Bird dan Express yang kecolongan Grab dan Uber. Lawan itu datang tanpa logo, tanpa pelat nomor kuning, dan tak ada tulisan taksi. Tahu-tahu armada itu sudah besar dan menggerogoti penerimaan perusahaan.

Akibatnya, Express rugi Rp 81 miliar per kuartal ketiga 2016. Sedangkan laba Blue Bird turun dari Rp 625,42 miliar ke Rp 360 miliar pada kuartal ketiga 2016.

Pada 2016 akhir, kita juga mendengar banyak kalangan pemilik hotel yang menyatakan keinginan untuk exit dari industri ini per kuartal III 2016. Alasannya adalah kontraksi dana APBN yang membuat okupansi hotel untuk keperluan meeting pemerintah berkurang.

Faktanya, para traveler pemula (the millenials) tengah beralih dari hunian hotel ke penginapan-penginapan berbasiskan sharing economy, seperti Airbnb dan Couchsurfing. Di Bali, di sepanjang Jalan Sunset Road, tumbuh rumah-rumah kos elite yang ditawarkan dengan pola ini.

Belum lagi restoran-restoran yang kelak akan kehilangan pengunjung dengan tawaran-tawaran makan siang atau malam bersama penduduk di rumah-rumah mereka melalui platform sharing economy.

Lantas, bagaimana dengan produk sehari-hari? Ambil saja produk makanan. Sejak tahun 2009 konsumen kelas menengah dunia sudah mulai meninggalkan makanan dalam kemasan, beralih ke makanan segar dan organik.

Di berbagai kota besar di Indonesia, kita saksikan rombongan tukang sayur bersepeda motor semakin banyak mendatangi kawasan perumahan. Lalu toko buah-buahan segar dan sayuran tumbuh pesat.

Di Amerika Serikat sendiri, sejak tahun itu 25 produsen utama makanan olahan telah kehilangan pendapatan sebanyak US$ 18 miliar.

Di Laut juga Berubah

Masalah dalam angkutan laut ternyata juga sama. Lagi-lagi banyak pihak salah membaca menyusul bangkrutnya raksasa Shipping Lines, Hanjin (Korea) yang menguasai pangsa pasar 3 persen dunia.

Umumnya para analis menunjuk pelemahan pertumbuhan ekonomi dan melemahnya harga-harga komoditi dunia, yang bahkan mengakibatkan harga kapal anjlok 60 persen dari harga semula.

Akan tetapi, fenomena ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan fenomena bisnis taksi, sebab shipping company kini tak perlu lagi mempunyai kapal sendiri. Cukup menjadi operator saja. Jadi, order angkutan barang dari Kalimantan menjadi mahal kalau harus diangkut dengan kapal dari Jakarta. Kini operator cukup mengontak kapal-kapal yang ada di dekat lokasi yang pasti lebih murah.

Dengan strategi ini, Djakarta Lloyd yang dulu juga sempat terancam bangkrut antara 2008-2013 rugi terus dengan total Rp 554 miliar, kini sudah kembali sehat dengan catatan keuangan di tahun 2016 mampu menorehkan laba bersih Rp 40 miliar, sebagai operator company.

Gerak perusahaan operator ini memang tak kelihatan dan begitu luas di seluruh industri dan sektor, tetapi selalu disangkal incumbent. Padahal, perubahan ini sudah mengikuti hukum moore yang terjadi secara eksponensial, supercepat.

Saya harap bulan depan anda sudah bisa membaca kajiannya dalam buku saya yang berjudul Disruption. “Sekalipun Anda Incumbent, dan menghadapi lawan-lawan tak kelihatan, cegah kehancuran sekarang juga.”

Saya harap Anda bersabar dulu. Jadi ini adalah sebuah era yang membutuhkan disruptive regulation, disruptive mindset, dan disruptive marketing.

Mari Kita Kenali Ciri-Cirinya

Pertama, teknologi mengubah kita semua dari peradaban time series menjadi real time. Time series statistic menghasilkan indikator-indikator lagging (ketinggalan). Ia menghitung dengan benar, tetapi basis datanya adalah masa lalu.

Peradaban real time bisa menghasilkan indikator-indikator kekinian (current indicator), saat ini, yaitu saat kita menghadapinya sehingga lebih relevan untuk membuat keputusan. Ini tentu berkat teknologi big data analitycs.

Kedua, dulu untuk berbisnis, Anda harus memilikinya sendiri. Kini Anda bisa saling memanfaatkan resources.

Ketiga dulu, teknologi tak memungkinkan kesegeraan. Kita semua harus antri (on the lane), sabar dan rela menunggu. Kini, Anda hidup dalam on demand economy. Jarak sudah mati, stok, data, dan armada, sudah dipindahkan ke dekat lokasi yang membutuhkannya. Teknologi dan algoritma data besar memungkinkan bagi kita untuk melakukannya.

Keempat, kurva supply-demand yang dulu Anda pelajari adalah permintaan-dan-penawaran tunggal. Kini kita hidup dalam dunia apps yang pada saat bersamaan dikerjakan oleh puluhan, bahkan ribuan jejaring.

Kelima, musuh-musuh Anda (kompetitor) sudah tak lagi kelihatan. Mereka langsung masuk ke sasaran-sasaran utama, kepada konsumen, door to door, langsung. Seperti Uber yang tak kelihatan, tak berbendera, tak bertanda apa-apa.

Sekali lagi, sejak dunia mengenal hukum Moore, disruption ini bersifat eksponensial, bukan linear. Artinya supercepat. Bayangkan apa jadinya kalau Anda terlalu lama membuat keputusan, desain perusahaan rigid dan statik, dan pegawai Anda bermental passenger?

Selamat Tahun Baru, 2017. Happy Holiday.

Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen UI

@Rhenaldkasali


Hgghkkgg

Sumber:  http://m.liputan6.com/bisnis/read/2688829/opini-ekonomi-indonesia-hadapi-lawan-lawan-tak-kelihatan?utm_source=App&utm_medium=WhatsApp&utm_campaign=Share